Sebuah Pengantar Eksistensialisme Menurut Jean Paul Sartre

Secara epistimologi, eksistensi berasal dari kata “eks” yang mengandung makna diluar dan “sistensi” yang bermakna menempatkan atau berdiri. Secara luas, eksistensi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri sebagai suatu entitas yang merdeka sekaligus keluar dari entitas itu sendiri. Dari sudut terminologi, secara singkat eksistensialisme dapat dijelaskan sebagai aliran ilmu filsafat yang memusatkan perhatian kepada manusia serta hal – hal yang mengiringinya, dimana pandangan pokok merujuk pada bahwasanya manusia adalah mahluk yang merdeka yang harus aktif dengan hal – hal sekitarnya serta mengkaji bagaimana manusia bekerja di dunia ini secara sadar.

Salah satu filsuf yang membahas lebih jauh mengenai Eksistensialisme adalah Jean Paul Sartre, seorang pejuang kemerdekaan, ateis, komunis dan tentunya seorang humanis. Dan bagi saya, seorang filsuf, intelektual, dan sastarawan yang sangat brilian, menyenangkan sekaligus sangat menantang. Menurut beliau, esensi Manusia tidak bisa dijelaskan dengan abstraksi didalam benak manusia. Misal, ketika kita melihat alat hitung yang bernama kalkulator. Secara langsung kita bisa memproyeksikan benda ini berdasarkan pada asal – usul dan fungsinya. Dalam pandangan Sartre, hal ini tidak dapat dilakukan kepada manusia. Sartre berpendapat bahwasanya manusia harus memiliki eksistensi terlebih dahulu sebelum memiliki esensi, bukan sebaliknya.  Ia banyak sekali mengkritik filsuf – filsuf terdahulu yang menjelaskan bahwasanya manusia adalah produk Tuhan dan Tuhan telah memiliki konsepsinya sendiri terhadap mahluk ciptaan – Nya yang satu ini.

Sartre membagi eksistensi menjadi 2 tipe, yaitu Etre pour soi (ada bagi dirinya sendiri) dan etre en soi (ada pada dirinya). Benda – benda memiliki eksistensi yang berbeda dengan manusia. Pembedaan ini terjadi karena manusia memiliki kesadaran, sedangkan benda tidak memiliki hal ini. Namun disisi lain, benda – benda ini (etre en soi) membantu manusia untuk menemukan esensi diri. Etre en soi ini bersifat pasif, artinya mereka tidak memiliki esensi selain dari esensi yang kita berikan kepada benda – benda ini. Misal, segumpal tanah tidak dapat memberikan makna kepada dirinya, namun makna ini berasal dari pemberian oleh manusia.

Sedangkan Etre pour soi adalah sesuatu entitas kosong yang memiliki kemampuan untuk “menjadi” atau mampu memberikan makna kepada dirinya sendiri. Pusat dari kemampuan ini adalah subjektifitas “aku”. Dalam tataran inilah, Sartre menjelaskan tentang eksistensialisme dalam pandanganya.

Kemampuan menjadi “aku” menimbulkan sebuah kebebasan bagi manusia. Kebebasan bertindak, kebebasan berfikir, kebebasan untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu hingga kebebasan memberikan suatu pandangan tertentu terhadap hal nyata dan abstrak yang ada disekitarnya. Untuk mempertahankan kebebasan ini, manusia akan saling bertindak dan menindak satu sama lain, dan juga acap kali menjadi subjek dan objek disaat yang bersamaan.

Ketika manusia dipandang, ketika itulah manusia membeku dan menjadi objek. Dengan demikian, pada kondisi ini manusia sedang ditindak. Manusia, mahluk yang berhadapan dan menghadapi dirinya sendiri dalam bentuk yang lain dan juga tentunya dengan dunia. Atas dasar inilah, kenapa eksistensi harus terlebih dahulu ada sebelum esensi itu muncul. Esensi manusia berasal dari pilihan – pilihan yang Ia ambil.

Man is nothing else but what he makes of himself. This is first principle of existentialism”, sebuah penekanan lebih lanjut mengenai individiualitas dari Sartre. Setiap manusia bebas memilih apa yang akan dia lakukan dan tidak dia lakukan. Lebih dalam lagi, manusia bebas memilih untuk menentukan pandangan dari siapa, nilai – nilai apa, serta etika dan moralitas seperti apa yang mendasari manusia untuk bertindak dan tidak bertindak.

Setiap tindakan inilah yang akan memberikan esensi pada manusia itu sendiri. Misalnya, beberapa murid di Sekolah dasar dapat memilih untuk menjadi murid yang pandai, menjadi murid yang nakal, dan beberapa pilihan lainnya. Namun, sebelum kesana hal utama yang harus dimiliki murid sekolah dasar adalah eksistensi sebagai murid di sekolah dasar. Sekali lagi, penegasan bagi manusia bahwa eksistensi akan selalu mendahului esensi.

Kebebasan untuk bertindak dan tidak bertindak ini akan membawa konsekuensi kepada manusia tersebut. Manusia secara holistik bertanggung untuk dan atas nama dirinya sendiri. Ketika manusia bertindak atas dasar pandangan orang lain, seseorang tersebut tetap saja menanggung tanggung jawab atas tindakanya sendiri. Begitu juga ketika manusia memilih untuk lari suatu hal, maka tanggung jawab pun akan lari bersama pilihannya tersebut.

Pandangan ini secara lebih jauh dapat kita maknai sebagai pemahaman Sartre yang menolak berbagai etika dan aturan moral, yang merupakan pembatas bagi setiap tindakan – tindakan yang dapat diambil oleh manusia. Penolakan ini semata – mata bukan untuk memberikan kebebasan yang membuta bagi manusia, namun membuka ruang bagi manusia untuk mengenali dirinya lebih jauh serta tanggung jawab besar atas apapun yang mereka pilih, baik itu untuk dilakukan maupun untuk tidak dilakukan.

Dengan alasan yang sama, Sartre menempatkan ateisme sebagai posisi pusat bagi dirinya. Dengan pandangan – pandangan umum mengenai konsep ketuhanan yang tumbuh kala itu, Sartre beranggapan bahwa manusia lari dari tanggung jawabnya dan melimpahkan semua tanggung jawab itu kepada Tuhan serta justru cendrung bersifat sesuka hatinya. Pandangan Sartre inilah, merupakan suatu tantangan yang cukup pelik bagi umat beragama, khususnya umat – umat beragama yang tidak melarikan diri dari humanisme. Menempatkan posisi Tuhan dalam humanisme, suatu hal yang harus dikaji secara terus menerus, untuk memahami “penempatan” yang tempat antara tanggung jawab manusia sebagai mahluk yang merdeka—dalam artian bebas untuk bertindak dan tidak bertindak—serta posisi tanggung jawab Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

(Dika Gustiana Irawan, Staf Divisi Kajian KOPI FEB UNPAD)

Sumber:

Solomon, R.C & Higgins, K.M. 2002. Sejarah Filsafat. Terjemahan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta: Bentang Budaya

Wibowo, A.Setyo. 2011. Eksistensi kontingen : satu sudut pandang membaca kisah hidup Sartre dan pemikiran Jean- Paul Sartre Dalam Filsafat Eksistensialisme Jean–Paul Sartre. Jakarta: Penerbit Kanisius

Starte, Jean-Paul. 2007. Existentialism is a Humanism.Terjemahan oleh Carol Macomber. New Haven & London: Yale Univesity Press.

Russel, Bertrand. 2007. Sejarah filsafat barat. Terjemahan oleh Sukardi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar