Insiden Novel Baswedan, Benarkah Upaya Pelemahan KPK (lagi)?

Penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengalami penyerangan pada Selasa (11/4) lalu. Novel diserang oleh orang tak dikenal dengan cara disiram menggunakan air keras setelah shalat Subuh di masjid di lingkungan rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Penyerangan ini mengejutkan publik dan menimbulkan berbagai kecurigaan. Bagaimana tidak, penyerangan ini dilakukan ketika penyidikan kasus korupsi KTP elektronik atau e-KTP tengah berlangsung. Diduga penyerangan terhadap Novel ini merupakan salah satu bentuk pelemahan lagi untuk KPK. Namun, benarkah tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pelemahan untuk KPK? Apakah benar tindakan ini dapat disejajarkan dengan revisi UU dan kriminalisasi bagi anggota KPK yang dianggap sebagai pelemahan kinerja KPK dalam mengusut kasus korupsi?

Marabahaya untuk Sang Penyidik

Dilansir dari Kompas, Kapolsek Kelapa Gading Argo Wiyono menjelaskan kronologi terjadinya peristiwa penyerangan berawal saat Novel selesai melakukan shalat Subuh berjaamah di Masjid Al-Ikhsan Kelapa Gading dan tiba – tiba dihampiri oleh dua orang laki – laki tak dikenal. Saat tiba di depan Novel, salah seorang tersangka lalu melemparkan cairan H2SO4 atau asam sulfat ke wajah Novel. Kedua pelaku itu kemudian melarikan diri dengan mengendarai motor. Sementara itu, Novel langsung dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk mendapat perawatan intensif.

Novel dikenal sebagai penyidik paling ulet yang dimiliki KPK. Banyak kasus suap dan korupsi besar yang melibatkan sejumlah pejabat negara maupun pengusaha besar yang ditanganinya. Tugasnya sebagai penyidik di KPK bukan tanpa risiko, disini nyawa jadi taruhan. Insiden penyerangan terhadap Novel memang bukan pertama kalinya terjadi. Penyerangan kepada penyidik KPK itu ternyata sudah beberapa kali dialami Novel.

Salah satu contohnya, pada akhir Juni 2012 penyidik KPK bertandang ke Buol untuk melakukan penangkapan pada Amran Batalipu dalam kasus dugaan korupsi penerbitan hak guna usaha perkebunan kelapa sawit di daerahnya. Amran melakukan perlawanan ketika tahu ada penyidik KPK. Amran lalu mengarahkan supirnya untuk menabrak rombongan KPK. Mobil yang ditumpangi Amran menabrak salah satu sepeda motor rombongan KPK. Lalu pada 2015, mobil tim penyidik KPK serta penyidik Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), termasuk di dalamnya Novel, mengalami kecelakaan masuk ke dalam sungai di Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Bambang Widjojanto, mantan komisioner KPK menyatakan, penyiraman cairan berbahaya ke wajah Novel merupakan bentuk terorisme. Aksi tersebut selain untuk menebar ketakutan, juga bertujuan untuk melemahkan KPK secara kelembagaan.“Ini adalah bentuk terrorizing, pasti pelakunya teroris harus dikualifikasikan sebagai teroris, karena apa? Tindakannya itu sudah di luar batas,” kata Bambang kepada Detik.

 

Teror, Kriminalisasi, dan Revisi UU Lembaga Anti Rasuah

Tak hanya Novel, teror dan penyerangan ini seakan menjadi hidangan yang wajib dicicipi oleh para anggota KPK. Dilansir dari Detik, setidaknya ada beberapa teror yang diterima sejumlah penyidik KPK ketika menangani kasus suap dan korupsi. Seperti teror bom di rumah penyidik KPK, Afief Julian Miftach, di Jakamulya, Bekasi pada 2015. Di tahun yang sama juga muncul isu ancaman pembunuhan terhadap sejumlah penyidik KPK lainnya. Juga pada November 2016, mantan Ketua KPK Antasari Azhar selepas bebas bersyarat dari sel tahanan mengaku sebelum dijadikan tersangka kasus pembunuhan pengusaha Nasrudin Zulkarnaen, dia sempat mendapat ancaman dari seseorang agar tak melakukan tindakan hukum terhadap seseorang. Saat itu Antasari mengaku menolak permintaan orang yang meneleponnya itu. Namun sosok pembawa pesan ini mengancam Antasari jika tidak mengabulkan permintaan tersebut.

Tak cukup hanya teror, kriminalisasi bagi para penegak hukum ini pun juga sering terjadi. Ketika menangani kasus korupsi pengadaan simulator SIM pada 2012 dengan tersangka Irjen Djoko Susilo, saat itu Novel hendak dijemput personel Bareskrim Polri. Ia dituduh melakukan penganiayaan berat terhadap pelaku pencurian sarang burung walet ketika menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bengkulu pada 2004. Akan tetapi, akhirnya Novel Baswedan bernapas lega setelah Kejaksaan Agung pada 22 Februari 2016 memutuskan menghentikan penuntutan kasus dugaan penganiayaan yang menjerat Novel itu. Pasca kasus itu, lulusan Akademi Kepolisian 1998 ini pun undur diri dari kepolisian. Ia menjadi penyidik independen KPK.

Novel, Chandra Hamzah, Bibit Samad Riyanto, Abraham Samad, Bambang Widjojanto adalah beberapa contoh komisioner KPK yang pernah dikriminalisasi.  Soal ancaman kriminalisasi tersebut bukan hanya dialami oleh KPK Indonesia, tetapi juga banyak lembaga antikorupsi lainnya di dunia, sehingga dalam deklarasi “Jakarta Principles” yang dihadiri berbagai Anti-Corruption Agencies pada November 2012, disepakati bahwa pimpinan dan pegawai lembaga antikorupsi perlu mendapatkan imunitas dari gugatan perdata ataupun ancaman pidana dalam melaksanakan tugasnya.

Masih jelas dalam ingatan ketika eksistensi dan kewenangan KPK ‘digoyang’ melalui modus wacana revisi Undang-undang (UU) Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK(legislative review). Materi revisi itu selalu berkutat dengan keinginan menghilangkan kewenangan penuntutan, membatasi penyadapan, dan penguatan pengawasan. Pembahasan dan pengajuan revisi ini pun terasa ganjil, karena bertepatan dengan berjalannya proses penyidikan e-KTP. Seolah wacana revisi UU ini pun terkesan dengan jelas hanya untuk melemahkan kinerja KPK.

Indikasi Pelemahan bagi Para Pemburu Koruptor

Dalam suatu sesi wawancara terkait penyerangan yang dialami Novel Baswedan, Jokowi berkata “Itu tindakan brutal, saya mengutuk keras. Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa (pelakunya). Jangan sampai orang – orang yang mempunyai prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara – cara yang tidak beradab. Saya kira ini tidak boleh terulang hal – hal yang seperti itu.”

Namun ketika ditanya pendapatnya mengenai apakah penyerangan tersebut adalah bentuk pelemahan KPK, Jokowi hanya menjawab bahwa ini murni kriminal. Seolah pernyataan sang presiden tersebut adalah lebih untuk menjaga tensi politik agar tidak meninggi di samping menjaga kewibawaan seorang pejabat presiden yang memang harus bersikap asah, asih, asuh terhadap warganya.

Fakta bahwa tugas sebagai penyidik KPK adalah sebuah tanggung jawab besar dan selalu bersinggungan dengan tersangka atau terdakwa korupsi, maka menjadi sangat wajar jika kemudian ancaman berupa teror menjadi resiko yang harus dihadapi. Benturan kepentingan antara penegakan hukum dan pelaku kejahatan korupsi tentu tidak dapat dihindari. Sehingga pada titik itulah kemudian hukum rimba dengan cara-cara ilegal yang cenderung tidak berperikemanusiaan menjadi berlaku, seakan-akan bahwa dengan melakukan teror maka akan menggembosi usaha-usaha penegakkan anti rasuah di negeri ini. Sejak awal berdiri, KPK selalu mengalami serangan dari pihak-pihak lain. Mulai dari nonfisik seperti wacana revisi UU KPK hingga ancaman fisik seperti kriminalisasi dan teror telah nampak di depan mata. Tentu hal ini akan menjadi sangat tidak mudah, baik bagi penyidik KPK ataupun penegak-penegak hukum lainnya yang sudah berkomitmen dan memiliki integritas terhadap penegakan anti korupsi. Bagi mereka pertaruhan nyawa dalam penegakan anti korupsi adalah mutlak dibutuhkan.

Tidak ada yang dapat memastikan bahwa berbagai tindakan penyerangan dan teror yang telah dialami beberapa anggota KPK adalah bentuk pelemahan secara kelembagaan. Namun, berulang kali penyerangan dan teror tersebut pun dilakukan ketika KPK tengah menyelidiki beberapa kasus besar yang menjadi perhatian masyarakat kala itu. Karena kecocokan inilah timbul pertanyaan, apakah ini hanya suatu kebetulan semata? Pelemahan atau bukan, tentunya setiap pelaku tindakan penyerangan dan teror harus diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di republik ini.

 

(Fajar Ramadhon, Staf Divisi Kajian KOPI FEB Unpad)

 

Sumber

Gresnia & Ibad. Teror Bandit bagi Pemburu Koruptor. Detik. https://x.detik.com/detail/investigasi/20170417/Teror-Bandit-bagi-Pemburu-Koruptor/index.php. Diakses pada 22 April 2017

Gresnia & Aryo. Marabahaya untuk Novel. Detik. https://x.detik.com/detail/investigasi/20170417/Marabahaya-untuk-Novel/index.php. Diakses pada 22 April 2017

Indramayu, Denny. Air Keras Novel Baswedan dan Derasnya Pelemahan KPK. Nusantarakini. http://nusantarakini.com/2017/04/14/air-keras-novel-baswedan-dan-derasnya-pelemahan-kpk/. Diakses pada 22 Februari 2017

Martin, Akhdi. Penyiraman Air Keras Terhadap Novel Baswedan Diduga dilakukan Oleh Dua Orang. Kompas.http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/11/08472801/penyiraman.air.keras.terhadap.novel.baswedan.diduga.dilakukan.dua.orang. Diakses pada 22 April 2017